Lakukanlah sesuatu itu karena itu memang baik untuk dilakukan, bukan karena apa yang akan kamu dapatkan.
Tampilkan postingan dengan label Arara Abadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arara Abadi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Warga Siak Protes Perusakan dan Pembakaran Rumah oleh Aparat TNI


March 26, 2014 in KLIPING

Selasa, 25 Maret 2014 | 12:25, Siak – Sejumlah rumah penduduk di Desa Tasik Betung, Kecamatan Mandau, Kabupaten Siak, Riau, dibakar dan dirusak oleh oknum aparat gabungan selama dua pekan terakhir.

Aparat gabungan itu terdiri dari oknum TNI, Brimob dan preman yang diduga kuat oleh masyarakat setempat membekingi salah satu pemegang izin konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi yang merupakan group usaha Asia Pulp and Paper (APP).

Rabu, 26 Maret 2014

Walhi Riau Kecam Pengrusakan Rumah di Tasik Betung

Selasa, 25 Maret 2014 

Siak - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau mengecam tindakan represif aparat keamanan yang membakar dan menghacurkan rumah penduduk di Desa Tasik Betung, Kecamatan Mandau, Kabupaten Siak, Riau. Perngrusakan rumah masyarakat dinilainya sebagai bentuk arogansi penguasa untuk menekan orang lemah.
"Pengrusakan dan pembakaran rumah masyarakat di Riau ini memang sudah sering terjadi. Parahnya lagi, pemerintah hanya tinggal diam dan terus membiarkan kasus itu berlarut-larut tanpa ada penyelesaian," ujar Direktur Walhi Riau, Rico Kurniawan kepada Beritasatu.com di Pekanbaru, Selasa (25/3).

Selasa, 25 Maret 2014

Sejumlah rumah penduduk di Desa Tasik Betung, Kecamatan Mandau, Kabupaten Siak, Riau, dibakar dan diruntuhkan oleh oknum aparat

Tasik Betung, Siak Mencekam
Aparat Gabungan Hancurkan Rumah Warga di Siak
Selasa, 25 Maret 2014
Kebakaran terjadi lahan kebun kelapa sawit terlihat dari udara di Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (27/6).[antara]
Kebakaran terjadi lahan kebun kelapa sawit terlihat dari udara di Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (27/6).[antara]


[SIAK] Sejumlah rumah penduduk di Desa Tasik Betung, Kecamatan Mandau, Kabupaten Siak, Riau, dibakar dan diruntuhkan oleh oknum aparat gabungan selama dua pekan terakhir. 

Aparat gabungan itu terdiri dari oknum TNI, Brimob, dan para preman, yang diduga kuat oleh masyarakat setempat, membekingi salah satu pemegang izin konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi, yang merupakan grup usaha  Asia Pulp and Paper (APP).

Minggu, 09 Februari 2014

Kemenhut Tolak Kerja Sama Anak Usaha APP

Pekanbaru,   (Antarariau.com) - Greenomics Indonesia menyatakan Kementerian Kehutanan menolak kerja sama operasional dengan dua anak usaha kelompok perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) yakni PT Arara Abadi dan PT Wirakarya Sakti.

"Permohonan itu diajukan tiga bulan setelah APP meluncurkan "forest conservation policy" atau kebijakan konservasi hutan pada  Februari 2013," ujar Koordinator Program Nasional Greenomics  Vanda Mutia Dewi melalui telepon seluler dari Pekanbaru, Jumat.

Para perusahaan kelompok APP tersebut, lanjut dia, yakni PT Perawang Sukses Perkasa Industri, PT Ruas Utama Jaya, PT Rimba Mandau Lestari yang berada di Riau. Sedangkan PT Rimba Hutani Mas berada di Jambi dan PT Rimba Hutani Mas yang berada di Sumatera Selatan.

Kelima perusahaan tersebut sekaligus membuktikan bahwa pemasok bahan baku independen yang disebut APP, ternyata adalah anak usaha langsung dari perusahaan yang memproduksi pulp dan kertas yakni PT Arara Abadi dan PT Wirakarya Sakti.

Akhirnya permohonan persetujuan itu ditolak Kemenhut setelah melakukan pemantauan oleh Direktorat Jenderal Hutan Tanaman Kemenhut serta membongkar fakta bahwa perusahan-perusahaan tersebut terkait langsung dengan APP.

"Selanjutnya, pihak Kemenhut meminta agar APP tidak lagi mengajukan permohonan kerja sama operasional serupa untuk perusahaan-perusahaan yang diklaim sebagai pemasok-pemasok independen," katanya.

Dalam laporan satu tahun pelaksanaan kebijakan konservasi hutan APP, Greenomics menyerukan agar perusahaan raksasa pada industri kertas itu tidak lagi menyembunyikan status perusahaan pemasok bahan bakunya yang terbukti membabat hutan alam dan gambut.

Pihaknya juga meminta agar "rainforest alliance" tidak melakukan audit terhadap kebijakan APP selama belum ada kejelasan tentang status hukum perusahaan-perusahaan yang disebut APP sebagai pemasok independen.

"Kami harap laporan ini bisa menjadi rujukan bagi semua pemangku kepentingan tentang status hukum perusahaan yang selama ini ditutupi sebagai pemasok independen oleh APP," ucap Vanda.

Market Transformation Leader World Wildlife Fund (WWF) Aditya Bayunanda mengatakan hingga kini kebijakan konservasi hutan APP belum menyentuh bagaimana mengganti kerusakan hutan yang telah dilakukan.

Dia juga mengingatkan perusahaan itu telah membuka hutan alam seluas lebih dari 2,6 juta hektare.

"APP seharusnya bertanggungjawab karena mewariskan hutan rusak yang sangat luas," katanya.

Dengan sejarah perusakan hutan yang kelam, APP bukanlah model yang layak ditiru perusahaan pulp dan kertas lain.

"APP baru menyatakan berhenti membabat hutan alam setelah hutannya habis. Jika kampanye ala itu ditiru perusahaan lain, maka bisa membahayakan masa depan hutan Indonesia," tegasnya.

Senin, 28 Oktober 2013

Demo, Warga Pelalawan Minta Lahan Perkebunan ke PT AA

Senin, 28 Oktober 2013


Kantor PT Arara Abadi didemo warga Pangkalan Kuras, Pelalawan. Mereka mendesak perusahaan HTI tersebut membagikan lahan perkebunan.

Riauterkini-PANGKALANKURAS-Puluhan warga dan masyarakat empat desa di Kecamatan Pangkalan Kuras, Senin pagi (28/10/13) mendatangi kantor besar perusahaan Hutan Tanaman Industri PT Arara Abadi yang bermarkas di desa Dundangan. Warga menuntut sejumlah lahan diserahkan kepada masyarakat untuk dijadikan lahan perkebunan. Massa yang diperkirakan lebih dari 50 orang bergerak dan tiba di lokasi perusahaan yang telah di jaga ketat oleh pihak keamanan dari Polres Pelalawan dan Polsek Pangkalan Kuras.

Kedatangan warga sempat dihadang oleh security perusahaan di portal pintu masuk ke perusahaan, sehingga memaksa mereka melakukan orasi agar manajemen sudi menemui mereka. Tak berselang lama kemudian, Humas PT Arara Abadi menemui massa yang sedikit mulai memanas, dan kemudian dilakukan pertemuan di Kantor perusahaan.

Kordiantor Lapangan, Nolis Hadis, mengatakan, bahwa kedatangan warga adalah menuntut sejumlah lahan masyarakat yang disinyalir telah diserobot oleh PT Arara Abadi.

Aksi dilakukan akibat terjadi kesenjangan hidup masyarakat yang berada disekitar operasional. Nolis meminta agar sejumlah lahan yang dikuasi oleh PT Arara Abadi, agar kembalikan ke masyarakat untuk dijadikan lahan perkebunan dan bercocok tanam. Warga juga meminta agar ada tapal batas yang jelas antara lahan perkebunan dengan lahan milik masyarakat, sehingga tidak terjadi tumpang tindih yang berujung terjadinya gesekan.

"Kami hanya menuntut hak-hak masyarakat yang disinyalir dirampas oleh perusahaan agar dikembalikan ke masyarakat", ujarnya.

Humas PT Arara Abadi, Santoso didampingi manajemen Timbul Mawardi, mengungkapkan bahwa antara perusahaan dengan masyarakat saling membutuhkan. Aksi yang digelar oleh pemuda, menurutnya bagian dari jalinan silahturahmi meski nuansanya sedikit berbeda.

"Perusahaan pada intinya senantiasa membuka diri dan peduli dengan masyarakat, khususnya kepada massa yang didominasi oleh pemuda ini. Benang kusut ini hendaknya bisa kita urai dan temukan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak", ujar Santoso.

Kapolsek Pangkalan Kuras, Kompol Rekson yang turut hadir dalam pengamanan aksi sekaligus menjadi mediasi ungkapkan apresiasi kepada para pemuda yang menyampaikan aspirasi secara damai.

"Silahkan saja sampaikan aspirasi secara damai dan penuh kekeluargaan. Kita berikan apresiasi atas aksi yang berjalan dengan penuh senyum ini", ujar Kompol Rekson.

Namun, perundingan yang berlangsung hingga pukul 13.00 WIB itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Sejumlah tuntutan yang diajukan oleh masyarakat, diantaranya meminta tanaman kehidupan, program CSR lebih maksimal, cek tapal batas dan program ekonomi kerakyatan belum bisa dikabulkan oleh perusahaan. Sebab itu, berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, pertemuan akan dilanjutkan pada (12/11/13) mendatang di tempat yang sama.*** (feb)



Sumber:http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=65985

Puluhan Warga Pangkalan Kuras Demo PT Arara Abadi

Senin, 28 Oktober 2013
Puluhan Warga Pangkalan Kuras Demo PT Arara Abadi
Puluhan warga kecamatan Pangkalan Kuras mendatangi kantor PT Arara Abadi distrik Sorek di desa Dundangan, Senin (28/10).

TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KURAS- Puluhan warga kecamatan Pangkalan Kuras mendatangi kantor PT Arara Abadi distrik Sorek di desa Dundangan, Senin (28/10). Massa melakukan aksi unjukrasa menuntut permintaan pengembalian lahan kepada PT Arara Abadi.
Informasi diperoleh tribun, puluhan pendemo yang keseluruhannya berjenis kelami laki-laki mendatangi lokasi perusahaan sekitar pukul 10.30 wib. Massa berasal dari empat desa yakni Desa Dundangan, Terantang Manuk, Palas, dan Sorek Dua. Adapun tuntutan para pengunjuk rasa yakni penyampaian Aspirasi pengembalian lahan PT Arara Abadi kepada masyarakat. Pasalnya, saat ini tidak ada lagi lahan tersedia untuk pertanian dan perkebunan.
Padahal, sumber penghidupan bagi masyarakat kebanyakan menggantungkan hidup dari bertani dan berkebun. Karena seluruh lahan sudah dikuasai oleh perusahaan yang beroperasi di Pelalawan, khususnya PT Arara Abadi. Namun aksi sempat tertahan oleh portal pintu masuk perusahaan. Dijaga ketat oleh personil kepolisian dari Polsek Pangkalan Kuras, pendemo diizinkan masuk untuk bertemu dengan perwakilan perusahaan.
"Jumlah massa sekitar 50 orang. Saat ini mediasi sedang berlangsung antara perwakilan masyarakat dengan perusahaan di salah satu ruangan," ungkap Kasubag Humas Polres Pelalawan, AKP Lumbantoruan.
Hingga berita ini diturunkan, proses mediasi dan dialog para pihak masih berlangsung. Warga menyampaikan aspirasi permintaan lahan kepada menegemant perusahaan. (*)
Penulis: johanes
Editor: zid

tanah untuk keadilan

tanah untuk keadilan

Visitor

Flag Counter

Bertuah

Blogger Bertuah